bola24.id – Xabi Alonso, mantan gelandang elegan yang pernah berseragam Real Madrid dari 2009 hingga 2014, kini kembali ke Santiago Bernabéu, bukan sebagai pemain, melainkan sebagai pelatih kepala.
Setelah kesuksesan besar bersama Bayer Leverkusen, di mana ia membawa klub Bundesliga itu meraih gelar liga pertama mereka secara tak terkalahkan, Real Madrid menunjuk Xabi Alonso sebagai penerus ideal Carlo Ancelotti yang mundur pada akhir musim 2025.
Sebagai pelatih, Xabi Alonso membawa filosofi yang mirip dengan gaya bermainnya dulu: cerdas, disiplin taktik, dan mengutamakan kontrol permainan dari lini tengah.
Dalam membangun skuad Galacticos era baru, Alonso harus memilih pemain-pemain andalan yang bisa menerjemahkan ide-idenya di lapangan. Siapa saja para pemain kepercayaan Xabi Alonso dalam proyek barunya bersama Real Madrid?
Jude Bellingham: Pilar Dinamis Lini Tengah
Sejak didatangkan dari Borussia Dortmund pada 2023, Jude Bellingham telah menjadi jantung permainan Real Madrid. Di bawah pelatih sebelumnya, Carlo Ancelotti, Bellingham sudah berkembang menjadi gelandang komplet yang bisa mencetak gol, mengatur tempo, dan memimpin tekanan dari lini kedua.
Xabi Alonso, yang pernah menjadi salah satu gelandang tengah terbaik dunia, sangat menghargai tipe pemain seperti Bellingham. Ia melihat sang pemain sebagai simbol era baru Madrid yang tidak hanya mengandalkan bintang, tetapi juga etika kerja, kematangan taktik, dan fleksibilitas peran.
Dalam sistem Xabi Alonso, Bellingham sering ditempatkan sebagai “interior kanan” dalam formasi 4-3-3 atau 3-4-2-1. Ia menjadi penghubung antara lini tengah dan serangan, serta sering kali diberikan kebebasan untuk masuk ke kotak penalti lawan. Dengan penguasaan teknik dan stamina luar biasa, Bellingham menjadi pemain yang sulit tergantikan.
Alonso bahkan pernah menyebut, “Jude adalah pemain yang saya inginkan ketika saya masih bermain. Dia bisa bertahan, menyerang, dan membuat perbedaan. Dia masa depan Madrid.”
Aurélien Tchouaméni: Jenderal Pengendali Ritme
Posisi gelandang bertahan adalah posisi vital dalam filosofi Xabi Alonso. Sebagai pelatih yang mengutamakan penguasaan bola dan transisi defensif cepat, Alonso membutuhkan seorang “pivot” modern yang bisa menjadi jangkar permainan—dan Aurélien Tchouaméni adalah sosok ideal untuk peran itu.
Didatangkan dari AS Monaco pada 2022, Tchouaméni sempat kesulitan beradaptasi, tetapi di bawah Xabi Alonso, ia menemukan peran sentralnya. Ia ditugaskan untuk mengatur ritme permainan, memotong serangan lawan, dan membantu build-up dari belakang. Dalam skema tiga bek, ia bahkan kadang turun sejajar dengan bek tengah sebagai deep-lying playmaker.
Dengan kemampuan membaca permainan dan distribusi bola presisi, Tchouaméni mengisi peran yang dulunya pernah Alonso jalankan sendiri di masa aktif. Tak heran jika Xabi Alonso mempercayainya penuh sebagai pilar utama lini tengah.
Federico Valverde: Mesin Tanpa Batas
Dalam skema intens dan dinamis ala Xabi Alonso, pemain seperti Federico Valverde adalah berkah besar. Valverde memiliki stamina luar biasa, kemampuan menyerang, dan juga kecepatan dalam transisi. Ia bisa bermain sebagai gelandang kanan, winger, bahkan bek sayap dalam sistem tiga bek fleksibel.
Alonso mengandalkannya sebagai motor energi dalam tim. Ia sering diminta menekan tinggi lawan, membantu pertahanan, dan menyisir sisi kanan lapangan dalam peran “box-to-box”.
“Valverde adalah pemain yang Anda inginkan dalam setiap laga besar. Dia tidak pernah berhenti,” ujar Alonso. Dalam banyak pertandingan penting, Valverde tampil sebagai pemain yang menentukan, baik lewat assist, pressing, maupun semangat juangnya.
Vinícius Jr.: Senjata Mematikan di Sayap Kiri
Tidak diragukan lagi, Vinícius Jr. adalah bintang utama Real Madrid dalam urusan menyerang. Di bawah Xabi Alonso, ia tetap menjadi pemain ofensif paling eksplosif, tetapi kini dengan pendekatan taktis yang lebih terstruktur.
Alonso tahu bagaimana memaksimalkan kecepatan dan kelincahan Vinícius tanpa membebani pemain asal Brasil itu dengan terlalu banyak tanggung jawab defensif. Dalam banyak formasi Alonso, Vinícius ditempatkan sebagai inside forward di sisi kiri, yang diberi kebebasan untuk mengeksploitasi celah di antara bek tengah dan bek kanan lawan.
Dengan sistem pressing yang lebih ketat di belakangnya, Vinícius bisa lebih fokus menyerang dan mencetak gol. Ia tetap menjadi pemain kunci untuk memecah kebuntuan, dan Alonso memberinya ruang untuk berkreasi.
Rodrygo Goes: Senjata Taktis Serbaguna
Jika Vinícius adalah pemain flamboyan, maka Rodrygo adalah pemain taktis yang lebih fleksibel. Di bawah Alonso, Rodrygo berkembang menjadi pemain yang bisa bermain di berbagai posisi: winger kanan, second striker, bahkan false nine.
Alonso menyukai Rodrygo karena kemampuan teknis, visi permainan, dan kedisiplinannya dalam menjalankan instruksi. Ia bisa menekan lawan, membuka ruang, dan menjadi playmaker sekunder dari lini depan. Dalam laga-laga besar, Rodrygo kerap tampil sebagai solusi taktis ketika skema utama buntu.
Éder Militão: Pilar Pertahanan Masa Depan
Pertahanan adalah fondasi filosofi Xabi Alonso. Dan untuk itu, Éder Militão adalah bek tengah yang paling ia andalkan. Setelah pulih dari cedera ACL panjang, Militão kembali dengan kepercayaan tinggi dan peran sentral.
Dengan kecepatan, kekuatan, dan kemampuan duel udara yang impresif, Militão menjadi bek utama dalam sistem pertahanan tinggi Alonso. Ia kerap menjadi pemimpin lini belakang, baik dalam formasi empat bek maupun tiga bek.
Alonso menyukai bek yang bisa memulai serangan dari belakang, dan Militão, meski bukan bek paling elegan dalam distribusi, menunjukkan perkembangan signifikan di bawah asuhan sang pelatih.
Antonio Rüdiger & David Alaba: Pemimpin Berpengalaman
Sebagai pelatih yang mengandalkan struktur dan komunikasi, Xabi Alonso sangat menghargai pengalaman dan kepemimpinan dalam pertahanan. Antonio Rüdiger dan David Alaba adalah dua bek senior yang sering menjadi tulang punggung dalam rotasi backline.
Rüdiger dikenal sebagai bek agresif, sementara Alaba memberi keseimbangan lewat kecerdasan posisi dan kemampuan membangun serangan. Alonso sering menggunakan keduanya dalam rotasi yang sangat taktis, tergantung lawan dan strategi.
Andriy Lunin: Penantang Serius Thibaut Courtois
Dengan cedera panjang yang sempat dialami Thibaut Courtois, penjaga gawang Ukraina Andriy Lunin mendapat banyak kesempatan bermain. Di bawah Alonso, Lunin diberi kepercayaan besar karena kemampuannya dalam distribusi dan reaksi cepat.
Meski Courtois tetap jadi nomor satu ketika fit, Alonso sangat menghargai Lunin sebagai penjaga gawang modern yang nyaman dengan bola dan bisa membantu build-up. Ia bahkan memberi Lunin kesempatan dalam beberapa laga besar sebagai bentuk penghargaan terhadap progresnya.
Arda Güler & Endrick: Proyek Masa Depan Alonso
Sebagai pelatih yang dikenal mempercayai pemain muda, Xabi Alonso juga mengandalkan dua bintang muda paling bersinar di Madrid: Arda Güler dari Turki dan Endrick dari Brasil.
Arda Güler, yang dikenal sebagai “Messi Turki,” sering digunakan Alonso sebagai playmaker cadangan atau gelandang kreatif yang bisa mengubah ritme permainan. Alonso membantu membentuk Güler agar bisa memahami intensitas dan taktik sepak bola Spanyol secara mendalam.
Sementara itu, Endrick—yang baru bergabung setelah tampil sensasional di Brasil—dianggap sebagai proyek jangka panjang, tapi potensinya sudah membuat Alonso terkesan. Dalam beberapa pertandingan pramusim dan laga Copa del Rey, Endrick telah menunjukkan naluri gol tinggi.
Kesimpulan: Xabi Alonso dan Era Baru Galacticos Taktis
Kembalinya Xabi Alonso ke Real Madrid sebagai pelatih bukan sekadar reuni sentimental. Ia datang membawa misi: membangun kembali Madrid sebagai kekuatan dominan Eropa dengan filosofi yang modern, intens, dan berbasis penguasaan taktik.
Pemain-pemain andalan Alonso seperti Bellingham, Tchouaméni, Valverde, dan Vinícius Jr. bukan hanya sekadar bintang—mereka adalah perpanjangan tangan dari ide sang pelatih. Dengan keseimbangan antara pemain muda dan senior, antara teknik dan taktik, Real Madrid di bawah Alonso tampak siap memasuki era baru.
Jika Carlo Ancelotti adalah maestro yang lembut, maka Xabi Alonso adalah arsitek strategis yang membangun dinasti dengan presisi. Dan dalam membentuk skuadnya, pilihan Alonso menunjukkan bahwa ia tak hanya ingin menang, tapi juga membentuk Real Madrid yang berpikir dan bermain seperti dirinya: cerdas, kuat, dan tak tergoyahkan.












