Kasus Skandal Keuangan Klub Inter Milan

inter milan

bola24.id – Inter Milan, sebagai salah satu klub sepak bola paling ikonik dan bersejarah di Italia dan dunia, tidak hanya dikenal karena prestasi gemilangnya di lapangan hijau, tetapi juga karena perjalanan finansialnya yang penuh liku, terutama dalam beberapa dekade terakhir.

Memasuki pertengahan tahun 2025, meskipun klub mungkin telah meraih berbagai kesuksesan kompetitif, bayang-bayang tantangan dan “skandal” keuangan Inter Milan — dalam arti luas yang mencakup kesulitan finansial signifikan, utang besar, dan perubahan kepemilikan akibat masalah pendanaan—terus menjadi topik hangat.

Era kepemilikan Suning Group asal Tiongkok yang berakhir dramatis dengan pengambilalihan oleh Oaktree Capital Management pada Mei 2024 menjadi puncak dari serangkaian isu finansial yang telah lama membayangi Nerazzurri.

Postingan skandal Inter Milan ini akan mengupas berbagai aspek terkait dinamika keuangan Inter Milan, mulai dari akar permasalahan di bawah Suning, krisis utang yang memuncak, hingga implikasi di bawah kepemilikan baru.

Pendahuluan: Definisi “Skandal Keuangan” dalam Konteks Inter Milan Kontemporer

Ketika berbicara tentang “skandal keuangan” dalam konteks Inter Milan di era modern, penting untuk mendefinisikan cakupannya. Istilah ini mungkin tidak selalu merujuk pada tindakan ilegal atau penipuan yang terbukti secara hukum, meskipun investigasi oleh pihak berwenang seperti Guardia di Finanza Italia terkait transparansi keuangan klub pernah terjadi di masa lalu, termasuk pada era Massimo Moratti dan Erick Thohir, serta di awal kepemilikan Suning terkait valuasi pemain dan potensi plusvalenze fiktif (capital gains buatan).

Namun, dalam konteks yang lebih luas, “skandal keuangan” dapat diartikan sebagai situasi krisis finansial akut, akumulasi utang yang tidak berkelanjutan, kegagalan memenuhi kewajiban finansial besar, dan perubahan kepemilikan yang dipicu oleh tekanan ekonomi berat.

Peristiwa pengambilalihan Inter oleh Oaktree Capital dari Suning Group pada Mei 2024 adalah contoh nyata dari “gejolak” keuangan semacam ini, yang memiliki dampak signifikan terhadap stabilitas dan arah strategis klub.

Era Kepemilikan Suning: Ambisi Besar di Tengah Pembatasan dan Akumulasi Utang

Suning Holdings Group mengakuisisi saham mayoritas Inter Milan pada tahun 2016 dengan ambisi besar untuk mengembalikan klub ke puncak sepak bola Italia dan Eropa.

Investasi awal memang terlihat menjanjikan, dengan didatangkannya pemain-pemain bintang dan peningkatan infrastruktur. Puncaknya adalah keberhasilan meraih Scudetto Serie A pada musim 2020/2021, mengakhiri dominasi panjang Juventus. Namun, di balik kesuksesan tersebut, model finansial yang diterapkan mulai menunjukkan kerentanan.

Beberapa faktor berkontribusi pada memburuknya kondisi keuangan Inter di bawah Suning. Pertama, pandemi COVID-19 memberikan pukulan telak terhadap pendapatan klub dari sisi tiket pertandingan dan komersial.

Kedua, pemerintah Tiongkok memberlakukan pembatasan ketat terhadap investasi modal ke luar negeri, termasuk dalam industri olahraga, yang secara signifikan membatasi kemampuan Suning untuk menyuntikkan dana segar ke Inter.

Ketiga, pengeluaran besar untuk gaji pemain Inter Milan dan biaya transfer yang tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan yang sepadan menyebabkan defisit anggaran yang berkelanjutan. Akibatnya, Inter semakin bergantung pada utang untuk membiayai operasionalnya, termasuk pinjaman signifikan dari berbagai lembaga keuangan.

Bom Waktu Utang: Pinjaman Oaktree dan Kegagalan Suning Membayar

Untuk mengatasi tekanan likuiditas yang semakin parah, pada Mei 2021, Suning melalui perusahaan induk Inter Milan, Grand Tower S.a.r.l., mengambil pinjaman darurat sebesar €275 juta (sekitar €375 juta termasuk bunga dan biaya lain setelah tiga tahun) dari perusahaan investasi asal Amerika Serikat, Oaktree Capital Management.

Pinjaman ini memiliki tenor tiga tahun dengan bunga yang cukup tinggi dan menggunakan saham mayoritas Inter Milan (yang dimiliki Suning melalui Grand Tower) sebagai jaminan.

Ini adalah langkah berisiko tinggi yang pada dasarnya menempatkan masa depan kepemilikan klub di ujung tanduk jika Suning gagal memenuhi kewajibannya.

Seiring berjalannya waktu dan mendekati tenggat waktu pembayaran pada 21 Mei 2024, menjadi semakin jelas bahwa Suning menghadapi kesulitan besar untuk melunasi utang tersebut.

Berbagai upaya untuk mencari pendanaan baru atau menjual klub sebelum tenggat waktu tidak membuahkan hasil yang memuaskan bagi Suning. Steven Zhang, Presiden Inter saat itu dan putra pendiri Suning, secara terbuka mengkritik Oaktree karena dianggap tidak kooperatif dalam upaya restrukturisasi atau perpanjangan pinjaman, namun Oaktree bergeming, bersikukuh pada persyaratan awal perjanjian.

Kegagalan Suning untuk membayar kembali pinjaman beserta bunganya yang mencapai hampir €400 juta tepat waktu secara otomatis memicu klausul dalam perjanjian yang memungkinkan Oaktree untuk mengambil alih kepemilikan saham mayoritas Inter Milan.

Peralihan Kepemilikan Dramatis: Oaktree Mengambil Alih Kendali Nerazzurri

Pada 22 Mei 2024, Oaktree Capital Management secara resmi mengumumkan pengambilalihan kepemilikan Inter Milan dari Suning Group. Peralihan ini menandai berakhirnya era kepemilikan Tiongkok selama delapan tahun dan membuka babak baru bagi Nerazzurri di bawah kendali dana investasi Amerika.

Oaktree, dalam pernyataan resminya, menekankan komitmen mereka untuk stabilitas operasional dan finansial jangka panjang klub, serta berjanji untuk bekerja sama dengan manajemen yang ada.

Meskipun pengambilalihan ini berjalan sesuai dengan kontrak pinjaman Inter Milan, prosesnya tetap mengejutkan banyak pihak dan menyoroti kerapuhan finansial yang dialami salah satu klub terbesar Italia. Ini menjadi sebuah “skandal” dalam arti kegagalan manajemen finansial di level tertinggi yang berujung pada kehilangan aset berharga.

Implikasi dan Investigasi yang Mungkin Timbul Pasca Peralihan

Peralihan kepemilikan akibat gagal bayar utang Inter Milan sebesar ini tentu membawa berbagai implikasi. Pertama, stabilitas keuangan jangka pendek menjadi fokus utama Oaktree.

Mereka perlu memastikan klub dapat terus beroperasi dan memenuhi kewajiban finansialnya, termasuk gaji pemain dan biaya operasional lainnya. Kedua, strategi transfer kemungkinan akan lebih konservatif, dengan penekanan pada keberlanjutan finansial dan kepatuhan terhadap aturan Financial Fair Play (FFP) UEFA.

Penjualan pemain bintang mungkin tidak terhindarkan jika diperlukan untuk menyeimbangkan neraca keuangan.

Dari sisi legal dan investigasi, meskipun pengambilalihan oleh Oaktree adalah hasil dari perjanjian kontraktual, transparansi keuangan Inter di bawah era Suning, terutama terkait penggunaan dana pinjaman dan potensi mismanagement, bisa saja menarik perhatian lebih lanjut dari otoritas sepak bola atau bahkan lembaga keuangan.

Sejarah investigasi plusvalenze di Italia juga menunjukkan bahwa klub-klub besar selalu berada di bawah pengawasan ketat. Namun, hingga Juni 2025, belum ada laporan mengenai investigasi kriminal spesifik terkait langsung dengan gagal bayar Suning ke Oaktree, karena ini lebih merupakan masalah kegagalan bisnis dan pemenuhan kontrak.

Tantangan Keuangan di Bawah Kepemilikan Baru: Menuju Model yang Berkelanjutan

Oaktree Capital, sebagai dana investasi, memiliki pendekatan yang berbeda dibandingkan pemilik individu atau korporasi yang berorientasi pada olahraga. Tujuan utama mereka kemungkinan adalah untuk menstabilkan klub, meningkatkan nilainya, dan akhirnya menjualnya kembali dengan keuntungan dalam beberapa tahun ke depan.

Ini berarti fokus pada efisiensi operasional, pengendalian biaya, dan peningkatan pendapatan menjadi sangat krusial. Tantangan utama bagi Oaktree adalah bagaimana menyeimbangkan ambisi kompetitif di lapangan dengan kebutuhan untuk menciptakan model bisnis yang berkelanjutan.

Pembangunan stadion baru, yang telah lama menjadi impian Inter (dan AC Milan), bisa menjadi salah satu proyek strategis jangka panjang yang dapat secara signifikan meningkatkan pendapatan klub.

Namun, proyek ini memerlukan investasi besar dan proses birokrasi yang kompleks di Italia. Selain itu, Inter harus terus bersaing di level tertinggi untuk memastikan pendapatan dari hak siar televisi, partisipasi di Liga Champions, dan sponsor tetap maksimal. Menemukan sumber pendapatan baru dan mengoptimalkan potensi komersial global klub akan menjadi agenda penting bagi manajemen baru.

Dampak pada Performa dan Strategi Klub di Lapangan Hijau

Perubahan kepemilikan dan tekanan finansial tentu berpotensi mempengaruhi performa tim di lapangan. Ketidakpastian mengenai masa depan klub atau potensi penjualan pemain kunci bisa berdampak pada moral pemain.

Namun, manajemen dan tim pelatih memiliki peran vital dalam menjaga fokus dan motivasi skuad. Jika Oaktree mampu memberikan kepastian dan dukungan yang memadai, serta mempertahankan staf kepelatihan dan pemain inti, dampak negatif bisa diminimalisir.

Strategi transfer kemungkinan akan lebih hati-hati. Klub mungkin akan lebih fokus pada perekrutan pemain muda berbakat dengan potensi nilai jual tinggi atau pemain bebas transfer yang tidak memerlukan biaya besar.

Penjualan pemain dengan gaji tinggi atau yang nilainya sedang di puncak bisa menjadi opsi untuk mendapatkan dana segar. Kemampuan klub untuk tetap kompetitif di tengah potensi pembatasan anggaran akan menjadi ujian berat bagi kecerdikan manajemen olahraga dan tim kepelatihan Inter.

Kesimpulan: Mencari Stabilitas di Tengah Badai Finansial

Perjalanan finansial Inter Milan dalam beberapa tahun terakhir, yang berpuncak pada pengambilalihan oleh Oaktree Capital dari Suning Group, adalah sebuah studi kasus kompleks mengenai ambisi, risiko, dan realitas ekonomi dalam industri sepak bola modern.

Meskipun istilah “skandal” mungkin memiliki berbagai interpretasi, kegagalan memenuhi kewajiban utang sebesar ratusan juta Euro yang berujung pada hilangnya kontrol atas klub sebesar Inter jelas merupakan sebuah gejolak finansial berskala besar.

Di bawah kepemilikan Oaktree, Nerazzurri kini memasuki babak baru yang menuntut fokus pada stabilitas, keberlanjutan, dan pengelolaan keuangan yang cermat. Tantangan ke depan tidaklah mudah, namun dengan sejarah besar dan basis suporter yang loyal, harapan akan kembalinya Inter ke jalur finansial yang lebih sehat sambil tetap berprestasi di lapangan akan terus menyala.

Bagaimana Oaktree dan manajemen klub menavigasi periode ini akan menentukan masa depan salah satu nama paling bergengsi di dunia sepak bola. Berdasarkan informasi terbaru yang muncul pada awal Juni 2025, Inter Milan tengah diguncang oleh tuduhan skandal keuangan yang cukup serius.

Laporan dari berbagai media, terutama yang bersumber dari media Prancis Foot Mercato, menyebutkan adanya dugaan bahwa Inter Milan telah menciptakan pendapatan fiktif dari sponsor sekitar 300 juta Euro antara tahun 2016 hingga 2019.

Tindakan ini diduga dilakukan untuk mengakali aturan Financial Fair Play (FFP) dan memanipulasi neraca keuangan klub agar terhindar dari sanksi.