bola24.id – Pertandingan antara Timnas Indonesia melawan China pada 5 Juni 2025 menjadi sorotan besar publik sepak bola nasional. Bertempat di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, duel ini merupakan bagian dari Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia Grup C.
Kedua tim memperebutkan posisi krusial di klasemen sementara, yang bisa menentukan kelolosan langsung ke putaran ketiga atau bahkan ke putaran final jika konsisten.
Timnas Indonesia berada dalam momentum positif, sementara China datang dengan reputasi tim raksasa regional. Pertemuan ini bukan sekadar laga biasa, melainkan ujian mental, teknis, dan strategi dari skuad asuhan Patrick Kluivert yang sedang mengalami fase kebangkitan besar-besaran.
Daftar Pemain Resmi: Skuad Final Timnas Indonesia
Pelatih kepala Patrick Kluivert telah menetapkan 23 nama pemain resmi yang dibawa untuk menghadapi China, setelah sebelumnya menggelar pemusatan latihan yang diikuti oleh 28 pemain. Dari daftar tersebut, lima pemain dicoret menjelang pertandingan.
Skuad ini merupakan kombinasi antara pemain-pemain naturalisasi yang tampil di liga luar negeri dan talenta lokal yang terus berkembang dalam kompetisi domestik.
Penjaga Gawang (Kiper): Pilar di Bawah Mistar
Dalam sektor penjaga gawang, Indonesia membawa tiga nama: Emil Audero dari Como 1907 (Italia), Ernando Ari dari Persebaya Surabaya, dan Nadeo Argawinata dari Borneo FC.
Emil Audero, pemain yang baru resmi menjadi Warga Negara Indonesia pada 2024, langsung dipercaya menjadi pilihan utama berkat pengalaman dan kualitasnya di Serie A. Ernando dan Nadeo menjadi pelapis yang sudah lama mengenal karakter permainan Timnas.
Tidak masuknya Reza Arya dan Maarten Paes menjadi kejutan tersendiri, terutama absennya Paes karena akumulasi kartu.
Bek: Kombinasi Natural dan Lokal
Lini pertahanan diisi oleh Jay Idzes (Venezia), Mees Hilgers (Twente), Justin Hubner (Wolves U21), Rizky Ridho (Persija Jakarta), Kevin Diks (Utrecht), Calvin Verdonk (NEC Nijmegen), Dean James (Go Ahead Eagles), serta si kembar Yakob dan Yance Sayuri (Malut United).
Ini adalah formasi bek yang sangat fleksibel: Jay Idzes dan Hubner punya peran vital sebagai jangkar pertahanan, sementara Diks dan Verdonk punya kemampuan untuk mengisi posisi wingback dalam skema 3-4-2-1 atau 4-3-3.
Absennya Jordi Amat dan Shayne Pattynama menimbulkan tanda tanya, namun keputusan ini diyakini karena faktor taktis dan kondisi fisik pemain.
Gelandang: Pengendali Permainan
Di lini tengah, Kluivert mempercayakan pos kepada Thom Haye, Joey Pelupessy, Ivar Jenner, Nathan Tjoe-A-On, Ricky Kambuaya, dan Beckham Putra Nugraha. Thom Haye, yang saat ini sedang tanpa klub setelah meninggalkan Heerenveen, tetap menjadi pilihan utama karena kemampuannya mengontrol tempo.
Sementara Pelupessy dari Lommel SK Belgia menjadi sosok penghancur serangan lawan. Ivar Jenner terus menunjukkan perkembangan positif di Jong Utrecht, dan keberadaan Tjoe-A-On menambah opsi bertahan. Ricky Kambuaya dan Beckham adalah dua nama lokal yang disiapkan sebagai pembeda dari bangku cadangan.
Penyerang: Harapan di Lini Depan
Untuk urusan mencetak gol, Timnas Indonesia membawa kombinasi menarik antara pemain lokal dan naturalisasi. Ole Romeny dari Oxford United, Rafael Struick (tanpa klub), Stefano Lilipaly (Borneo FC), Egy Maulana Vikri (Dewa United), dan Ramadhan Sananta (DPMM FC) masuk dalam daftar.
Romeny, pemain naturalisasi anyar, menjadi harapan utama sebagai target man. Rafael Struick dan Egy bisa beroperasi di lini sayap, sementara Lilipaly hadir sebagai pemain serba bisa yang dapat ditempatkan di berbagai posisi menyerang. Ramadhan Sananta memberi opsi striker murni dengan kekuatan fisik dan determinasi tinggi.
Formasi dan Strategi: Merancang Kemenangan
Pelatih Patrick Kluivert diperkirakan akan menggunakan skema 3-4-2-1 yang cukup fleksibel. Dalam formasi ini, tiga bek tengah (Idzes, Hilgers, dan Hubner) akan menjadi pondasi lini pertahanan, dibantu oleh dua gelandang sayap yang agresif seperti Diks dan Verdonk.
Di tengah, Haye dan Pelupessy akan menjadi poros ganda. Di lini serang, Egy dan Struick diplot sebagai gelandang serang di belakang Romeny. Keunggulan formasi ini terletak pada transisi cepat dan penekanan pressing tinggi.
Sistem ini menuntut kecepatan, disiplin, dan koordinasi yang kuat, dan Timnas Indonesia menunjukkan kesiapan untuk bermain dalam sistem seperti ini setelah melalui rangkaian uji coba dan latihan intensif.
Pemain Absen: Siapa yang Dicoret dan Mengapa
Lima pemain yang dicoret dari skuad final adalah Reza Arya, Jordi Amat, Shayne Pattynama, Pratama Arhan, dan Asnawi Mangkualam. Keputusan ini mengejutkan publik karena nama-nama seperti Jordi, Arhan, dan Asnawi merupakan langganan starting eleven di era sebelumnya.
Namun, Kluivert secara terbuka menjelaskan bahwa pemilihan skuad berdasarkan kebutuhan taktik, performa saat ini, serta kesiapan fisik. Jordi Amat kemungkinan besar tidak dalam kondisi prima, sementara Asnawi dan Arhan mungkin kalah bersaing dengan Kevin Diks dan Verdonk dalam posisi bek sayap.
Pemain Kunci: Harapan di Tengah Tantangan
Dari 23 pemain yang dibawa, beberapa nama menjadi sorotan utama publik. Emil Audero akan menjalani debutnya dalam pertandingan kompetitif untuk Indonesia.
Ekspektasi besar berada di pundaknya sebagai penjaga gawang yang punya pengalaman di Serie A. Di lini belakang, Jay Idzes tampil dominan dalam beberapa laga sebelumnya dan diharapkan menjadi pemimpin di lapangan.
Thom Haye akan memegang peran vital dalam mengatur tempo permainan, dengan kombinasi umpan akurat dan visi permainan. Di lini serang, publik menantikan kejutan dari Ole Romeny, yang bisa menjadi pembeda dalam duel satu lawan satu maupun penyelesaian akhir.
Tim Lawan: China Tak Bisa Diremehkan
China datang dengan kekuatan penuh dan ambisi besar. Di bawah pelatih Aleksandar Jankovic, China mengandalkan nama-nama seperti Wu Lei, Zhang Yuning, dan kiper Yan Junling.
Mereka memiliki keunggulan fisik, pengalaman, dan gaya bermain China yang disiplin khas Asia Timur. Dalam pertemuan pertama di kandang China, Indonesia berhasil menahan imbang 1-1, hasil yang memperlihatkan kemampuan bertahan dan efektivitas serangan balik skuad Garuda.
Namun, menghadapi China di Jakarta menjadi tantangan tersendiri karena mereka tentu tidak ingin kehilangan poin dalam perebutan posisi runner-up grup.
Dukungan Suporter: Garuda Tak Terbang Sendiri
Atmosfer di SUGBK dipastikan akan menjadi neraka bagi tim tamu. Lebih dari 70.000 suporter diperkirakan hadir langsung memberikan dukungan kepada skuad Garuda melawan China.
Dukungan seperti ini tidak hanya memberi motivasi, tapi juga bisa memberikan tekanan psikologis bagi tim lawan China. Patrick Kluivert dalam konferensi pers menyatakan bahwa dukungan suporter adalah senjata ke-12 yang dimiliki Indonesia.
Ia bahkan menyebut bahwa energi dari tribune bisa membantu pemain mengeluarkan 120 persen kemampuannya.
Dampak Jangka Panjang: Masa Depan Timnas
Laga melawan China bukan hanya soal tiga poin, tetapi juga menyangkut masa depan sepak bola nasional. Jika Indonesia mampu meraih kemenangan atau minimal hasil imbang, peluang lolos ke putaran final Piala Dunia 2026 akan terbuka lebar.
Lebih dari itu, pertandingan ini menjadi bukti nyata bahwa proyek naturalisasi dan pembinaan pemain lokal bisa berjalan beriringan. Kemenangan atas tim sekelas China akan memperkuat legitimasi proyek jangka panjang PSSI dan pelatih asing seperti Kluivert.
Penutup: Momentum untuk Sejarah Baru
Timnas Indonesia yang akan melawan China sudah menampilkan banyak perkembangan positif dalam dua tahun terakhir. Kini, mereka menghadapi ujian besar melawan salah satu rival terkuat di grup.
Daftar skuad yang dibawa mencerminkan ambisi besar: kombinasi pemain muda, pemain berpengalaman, dan wajah-wajah baru hasil naturalisasi yang dirancang untuk membawa Indonesia ke level lebih tinggi.
Dukungan suporter, strategi matang, dan kerja keras di lapangan bisa menjadi penentu apakah 5 Juni 2025 akan dikenang sebagai tonggak sejarah baru dalam perjalanan panjang Garuda menuju pentas dunia.












